American Dream23 Mei 2008
Amerika adalah mesin
mimpi terbesar di dunia
Apa yang dimaksud
dengan “mesin mimpi” ? Ini dia:
1. Setiap orang bebas
memiliki mimpinya sendiri-sendiri
Ini adalah keunggulan
dari negara yang bebas seperti Amerika. Setiap orang bisa memiliki mimpinya
sendiri-sendiri tanpa dibatasi oleh sistem politik, sosial, dan lain-lain. Di
banyak negara lain hal ini tidak terjadi. Ada saja peraturan yang membatasi mimpi
mereka. Inilah salah satu keunggulan Amerika dari Cina yang menerapkan sistem
komunis. Di Cina masih banyak peraturan yang membatasi, khususnya kalau
bersentuhan dengan politik. Terus terang saja, saya sama sekali tidak percaya
Cina akan bisa menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia selama mereka masih
menerapkan sistem komunis seperti sekarang.
2. Setiap orang
didorong untuk mewujudkan mimpinya
Mungkin semua orang
bisa mempunyai mimpinya sendiri-sendiri, tapi untuk mewujudkan mimpi pasti
tidak mudah mengingat risiko yang diambil. Nah, di Amerika orang-orang didorong
untuk mewujudkan mimpinya. Dengan cara apa ? Yaitu dengan tersedianya insentif
finansial yang sangat besar kalau mereka berhasil mewujudkan mimpinya. Insentif
ini terutama dalam bentuk IPO (initial public offering) di pasar saham dan
akuisisi dari perusahaan yang lebih besar. Insentif IPO inilah yang menjadikan
Sergey Brin dan Larry Page dari Google masuk daftar orang terkaya dunia dalam
usia masih 30-an tahun. Dan insentif akuisisilah yang membuat orang-orang
YouTube kebanjiran uang setelah dibeli Google.
Satu hal lagi yang
juga membantu adalah kenyataan bahwa di Amerika setiap orang menerima imbalan
sesuai dengan kemampuan dan kontribusi masing-masing (sistem meritokrasi). Ini
berbeda dengan keadaan di kerajaan-kerajaan kaya minyak di mana para
bangsawannya menjadi kaya raya semata-mata karena faktor keturunan
3. Setiap orang
dibantu untuk mewujudkan mimpinya
Amerika memiliki
sistem yang bagus untuk membantu orang mewujudkan mimpi mereka menjadi
kenyataan. Yang pertama adalah dari segi hukum, di mana sangat mudah untuk
mendirikan maupun menutup perusahaan. Akibatnya orang-orang tidak bimbang untuk
memulai perusahaan baru. Yang kedua - dan ini mungkin paling menentukan -
adalah tersedianya dana secara besar-besaran bagi orang-orang “gila” melalui
venture capital (VC). Karena banyak mimpi membutuhkan dana tidak sedikit untuk
diwujudkan, VC inilah yang memungkinkan mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan.
Para venture capitalist di Amerika memiliki sistem yang sangat handal untuk
memilih dan memoles ide yang berprospek untuk didukung.
Dari sini tidak heran
kalau banyak ide gila muncul dan berkembang di Amerika dan bukannya di negara
lain. Mungkin banyak hal lain di Amerika mudah ditiru, tapi saya yakin akan
sangat sulit untuk meniru “mesin mimpi” ini. Meskipun begitu, siapa tahu
Indonesia suatu saat juga bisa menjadi mesin mimpi. Bagaimana, mungkin tidak
Indonesia menjadi mesin mimpi ?
Bilhan Ricardo
Manager Trainee P.T. J Darmawan Venture Capital
|