Langkah lainnya yang mungkin bisa dilakukan adalah renegoisasi dan
reschedulling utang luar negeri. Ah, utang lagi utang lagi yang
dibahas. Kapan ya negara kita yang kaya ini bebas dari hutang.
Akibatnya sebagian APBN habis buat bayar utang. Belum lagi kebiasaan
kita gali lubang tutup lubang. Utang lama belum lunas sudah mikirin
gimana caranya dapat utang baru. Capek deh…
Minyak Dunia USD 117, APBN Siaga Rp 9,3 T
JAKARTA - Harga minyak internasional terus meroket ke kisaran USD
117,20 per barel kemarin. Rekor baru itu semakin menekan keuangan
negara karena harus menanggung subsidi BBM yang semakin membengkak di
APBN.
Bila pemerintah tetap nekat tak menaikkan harga BBM bersubsidi,
hampir dipastikan negara harus menanggung subsidi di atas Rp 200
triliun. Dalam simulasi Depkeu, jika harga ICP (Indonesian Crude Price)
USD 115 per barel subsidi yang dibutuhkan mencapai 229,61 triliun.
Tapi, bila pilihan menyelamatkan APBN maka kenaikan BBM sulit dibendung.
Dalam situasi yang sangat terjepit ini, pemerintah berusaha
menenangkan publik dengan mengatakan APBN masih aman. “Asumsi-asumsi
(APBN) kita masih tetap. Kenaikan (harga minyak internasional) terakhir
ini kan karena masalah ad hoc, yaitu masalah pipa di Nigeria. Masih
aman asumsi kita,” kata Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas Paskah
Suzetta di Kantor Presiden kemarin (21/4).
Pemerintah dan DPR memang telah menganggarkan dana pengaman dalam
APBN Rp 9,3 triliun untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak di pasar
internasional.
Meski demikian, sejumlah pengamat meyakini pengaman di APBN akan
jebol bila harga minyak melampaui USD 117 per barel. Pada perdagangan
kemarin, kontrak utama New York untuk minyak jenis light pengiriman Mei
ditutup naik hingga 38 sen menjadi USD 117,07 per barel. Sebelumnya,
harganya sempat menembus USD 117,40 per barel.
Untuk minyak jenis Brent pengiriman Juni juga mencatat rekor baru di
USD 114,65 per barel, sebelum akhirnya ditutup naik 39 sen menjadi USD
114,31 per barel.
Kedua kontrak itu mencapai rekor tertinggi karena merosotnya nilai
tukar USD, gangguan produksi minyak di Nigeria yang dikerenakan
pemberontak menyerang pipa minyak. Nigeria adalah negara Afrika
terbesar penghasil minyak dengan produksi 2,1 juta barel per hari.
Harga rata-rata ICP untuk Januari-Maret 2008 saat ini tercatat USD
103,1 per barel, atau melampaui asumsi di APBN-P 2008 sebesar USD 95
per barel. Harga ICP itu yang menjadi patokan APBN. Dengan asumsi harga
ICP USD 95 per barel di APBNP, subsidi BBM yang disiapkan Rp 126,8
triliun. Diperkirakan dengan harga ICP di atas USD 100 per barel,
diperkirakan subsidi mendekati Rp 200 triliun. Ini merupakan seperempat
APBN dan sangat mengancam keuangan negara.
Coba dibayangkan, bila subsidi APBN itu dialihkan untuk pembangunan.
Biaya jalan tol tengah kota Surabaya hanya menghabiskan sekitar Rp 4
triliun. Jembatan Madura yang sudah melewati lima presiden itu biaya
sekitar Rp 5 triliun.
Sebenarnya pemerintah tak perlu takut menaikkan harga BBM, ini
karena DPR telah memberi hijau. Yakni, apabila harga ICP melampaui USD
100 per barel, DPR setuju mengurangi subsidi BBM. Otomatis harga BBM
menjadi naik. Tapi, Paskah Suzetta masih optimistis dengan dana
pengaman subsidi yang hanya Rp 9,3 triliun.
BBM Melejit, Konsumsi Naik
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah gambaran kondisi
pemerintah terkait dengan beratnya beban subsidi BBM saat ini. Sebab,
saat harga minyak dunia terus meroket hingga lebih dari USD 115 per
barel, konsumsi BBM bersubsidi di tanah air juga meningkat.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2008,
kuota BBM subsidi ditetapkan 35,5 juta kiloliter (kl). Rinciannya,
premium (16,8 juta kl), solar (11 juta kl), dan minyak tanah (7,7 juta
kl).
Berdasar data terbaru yang dirilis Badan Pengatur Kegiatan Usaha
Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), di antara ketiga jenis BBM
bersubsidi itu, konsumsi premium dan solar meningkat. Hanya konsumsi
minyak tanah yang menurun.
Anggota Komite BPH Migas Adi Subagyo menyatakan, naiknya tingkat
konsumsi BBM dipengaruhi banyak faktor. Misalnya, terus naiknya jumlah
kendaraan bermotor. “Akibatnya jelas, konsumsi premium dan solar ikut
naik,” ujarnya di Jakarta kemarin (21/4).
Berdasar data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia
(Gaikindo), penjualan mobil periode Januari-Maret mencapai 135.598
unit. Jumlah itu naik 60,7 persen dibandingkan periode yang sama 2007,
yakni 84.337 unit. Itu baru mobil. Belum lagi terus melonjaknya jumlah
sepeda motor.
Menurut Adi, untuk solar subsidi, konsumsi Januari mencapai 970.694
kl, naik 13,19 persen dibandingkan Januari 2007. Konsumsi Februari 2008
mencapai 822.099 kl, naik 8,1 persen dari Februari 2007. “Untuk Maret,
datanya belum ada,” jelasnya.
Meski demikian, kata dia, jika konsumsi Maret diasumsikan sama
dengan Januari, konsumsi solar bersubsidi pada kuartal I 2008 sudah
mencapai 2.763.487 kl. “Itu angka yang besar,” tegasnya.
Sebab, jelas dia, dengan kuota 11 juta kl selama 2008, seharusnya
konsumsi solar bersubsidi pada kuartal I tahun ini tidak boleh lebih
dari 2.750.000 kl.
Seperti solar, konsumsi premium juga membengkak, dengan konsumsi
sepanjang kuartal I 2008 mencapai 4,58 juta kl. Padahal, dengan kuota
16,8 juta kl selama 2008, maksimal konsumsi per kuartal tidak boleh
lebih dari 4,2 juta kl.
Adi menyatakan, selain pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, faktor
yang memicu naiknya konsumsi premium dan solar adalah beralihnya
sebagian konsumen yang sebelumnya mengonsumsi BBM nonsubsidi. Yakni,
dari jenis Pertamax, Pertamax plus, maupun solar Pertamina Dex ke BBM
subsidi jenis premium maupun solar. “Sebab, memang lebih murah,”
ujarnya.
Hal tersebut memang masuk akal. Sebab, harga BBM nonsubsidi terus
merangkak naik mengikuti harga minyak dunia. Akibatnya, disparitas atau
perbedaan harga pun makin lebar. Sebagai gambaran, saat ini, harga
Pertamax dan Pertamax plus di Jabodetabek mencapai Rp 8.300 dan Rp
8.600 per liter. Harga premium masih Rp 4.500 per liter.
Harga solar Pertamina Dex di Jabodetabek sudah mencapai Rp 10.200
per liter, jauh di atas harga solar bersubsidi yang hanya Rp 4.300 per
liter. Selain hal tersebut, kata Adi, salah satu penyebab membengkaknya
konsumsi BBM subsidi adalah masih banyaknya penyimpangan penggunaan BBM
subsidi.
Menyikapi hal-hal tersebut, kata dia, salah satu upaya yang bisa
dilakukan pemerintah untuk mencegah pembengkakan konsumsi BBM adalah
mempercepat pelaksanaan program pembatasan konsumsi premium-solar
melalui mekanisme smart card. “Kalau tidak segera dilakukan,
diperkirakan kuota akan terlewati,” tegasnya.
Yang agak menggembirakan, jelas Adi, adalah turunnya konsumsi minyak
tanah bersubsidi. Menurut dia, konsumsi mitan periode Januari mencapai
812.894 kl, turun 4 persen dibandingkan Januari 2007 yang mencapai
846.815 kl. Februari 2008, konsumsi mencapai 725.798 kl, turun 4,7
persen dibandingkan 2007 sebesar 761.428 kl.
Untuk Maret, konsumsi diprediksi juga turun 4-5 persen. “Itu karena
program konversi elpiji. Insya Allah, untuk minyak tanah, kuota 7,7
juta kl bisa terpenuhi,” ungkapnya.
Terkait dengan pemberlakuan smart card, Kepala BPH Migas Tubagus
Haryono menuturkan, saat ini timnya terus mematangkan rencana tersebut.
“Mudah-mudahan, Juni bisa mulai uji coba,”
ujarnya.
sumber: jawapos